Tirto.id: Duduk Perkara Kericuhan TPS 68 Kalibata City

Sekitar seratusan warga rusun Kalibata City, Jakarta Selatan, protes saat menemukan salah satu warga Kalcit (sebutan akrab Kalibata City) yang diizinkan mencoblos, meski tidak mengurus A5 dan alamat KTP-nya bukan di Kalcit.

“Kalau ibu itu bisa, kenapa kita enggak boleh?” tanya Vina, salah satu warga yang protes. Sejak pukul 10 pagi, kerumunan warga yang tidak mengurus A5 atau C6 sudah mengular di dekat TPS 71. Mereka protes agar diperbolehkan mencoblos hanya dengan E-KTP.

Warga yang dimaksud adalah Isti Firnasari Nur Syamsu, penyintas bencana gempa Palu, Sulawesi Tengah. Ia sempat dipanggil warga dan anggota Bawaslu Jakarta Selatan Abdul Salam untuk dimintai keterangan. Isti mengaku tidak mengalami kesulitan saat masuk TPS 68.

“Ibu saya yang udah urus A5 masuk tadi, terus manggil saya. Ternyata bisa aja masuk,” cerita Isti kepada Tirto.

Setelah menginterogasi Isti dan petugas KPPS TPS 68, anggota Bawaslu Jakarta Selatan Abdul Salam merekomendasikan pemungutan suara ulang (PSU) di TPS 68. Pasalnya, Abdul memutuskan masuknya Isti ke TPS sebagai kesalahan panitia.

“Saya rekomendasikan untuk dilakukan PSU, dalam tempo 10 hari dari sekarang. Itu sudah aturannya. Nanti DPT tetap kayak sekarang,” ujarnya kepada kerumunan masa.

Emosi beberapa anggota KPPS TPS 68 Kalcit—yang dilaksanakan di dalam lapangan basket yang dipagari jaring—sempat tersulut.

Dua pria di antaranya bahkan membentak dan menunjuk-nunjuk Isti. Mereka tak menerika Isti bisa masuk ke TPS yang menjadi tanggung jawab mereka.

Abdul Salam, sebagai anggota Bawaslu, sempat menenangkan keadaan dan menasihati anggota KPPS untuk menahan emosi. Proses interogasi itu ditonton warga lain yang mendukung Isti dari luar jaring. Kerumunan juga sempat tersulut ketika melihat Isti dibentak.

Dalam surat edaran KPU, ada empat kondisi yang memperbolehkan warga (1) sakit; (2) narapidana; (3) dalam masa tugas; dan (4) tertimpa bencana untuk bisa ikut mencoblos hanya dengan menunjukkan KTP.

Namun, Abdul Salam tetap memutuskan untuk merekomendasikan pemungutan suara ulang kepada KPU, khusus untuk TPS 68 di Kalcit. “Nanti biar KPU yang memutuskan,” tambahnya.

Kembali Diprotes

Setelah Bawaslu mengumumkan keputusan, kerumunan warga yang tak diizinkan mencoblos karena tak mengurus A5 terlihat lebih tenang. Namun, Isti kembali diprotes kelompok warga lain yang menilai keputusan pemungutan ulang terlalu terburu-buru dan merugikan pemilih lain di TPS 68.

“Enggak bisa gitu, dong. Masak gara-gara satu orang, semuanya mesti nyoblos ulang?” kata Shella Kartika, warga Kalcit dari Tower Tulip.

Sejumlah warga lain yang menolak keputusan Bawaslu bahkan mengkonfrontasi Isti untuk dimasukkan kembali ke dalam TPS hingga permasalahan selesai. “Masukan dia ini! Jangan kasih keluar!” kata seorang pria. Isti sempat menolak dan berkata, “Udah, Pak, Udah. Saya sudah masuk tadi. Sudah jelas masalahnya.” Lalu ia pergi meninggalkan kerumunan.

Isti mengatakan kepada Tirto bahwa ia sebenarnya tak tahu mengapa ia diizinkan masuk. “Saya pikir karena saya korban gempa, jadi boleh. Tapi malah jadi masalah gini,” ungkap warga Lolu Utara, Palu Timur, ini.

Tiga warga yang mengaku berdomisili tetap melanjutkan protes di tengah kerumunan. Salah satunya meneriaki Isti, “Jangan kabur lo!” Isti sendiri sudah tinggal di Kalcit sejak dua minggu pasca-gempa Palu. “Rumah saya masih diperbaiki, sekarang belum bisa ditinggali. Maka saya tinggal di sini dan nyoblos di sini,” ungkap Isti.

Hingga pukul enam sore, Rabu (17/4) kemarin, kerumunan masih memadati TPS 68 Kalcit. Abdul Salam memutuskan menunda perhitungan suara di TPS itu karena takut didatangi kerumunan lagi. “Kita tetap hitung yang caleg, karena itu tadi (Isti) cuma nyoblos yang presiden. Jadi yang presiden enggak dihitung,” kata Abdul.

Dari pantauan Tirto, hingga pukul 19.00, perhitungan suara di TPS 68 masih belum dimulai. Dua TPS di sebelahnya, 67 dan 68, sudah menyelesaikan perhitungan suara pilpres yang dimenangkan kandidat 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Di Kalcit sendiri telah disiapkan 11 TPS.

Bersama Anggota Bawaslu DKI Jakarta dan Bawaslu Jakarta Selatan dalam advokasi dan pendampingan KPPS di TPS 68 Kalibata City

Baca selengkapnya di artikel “Duduk Perkara Kericuhan TPS 68 Kalibata City”, https://tirto.id/duduk-perkara-kericuhan-tps-68-kalibata-city-dmDQ

About Dody Wijaya

Peminat Kajian Kepemiluan dan Pegiat Pemilu, Tinggal di Jakarta Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.