Pimpin Apel, Memberi Teladan dan Leadership

Senin, 9 Maret 2020 saya memimpin apel rutin bersama Komisioner dan jajaran Sekretariat KPU Kota Jakarta Selatan di ruang media center lantai 4. Kegiatan rutin ini bertujuan untuk memberikan pengarahan, motivasi dan dorongan kepada jajaran Sekretariat untuk melaksanakan tugas-tugas di KPU Kota Jakarta Selatan.

Pada kesempatan tersebut saya menyampaikan tentang buku yang menginspirasi saya: “Essentialism” karya Greg McKeown. Buku ini membahas tentang “apa yang menghambat orang hebat untuk naik ke level berikutnya?” Ini adalah pertanyaan menarik. Karena banyak orang hebat yang gagal menembus level berikutnya dan stuck di level mereka saat ini. Jawabannya sedikit tak lazim. Penyebab mereka gagal adalah kesuksesannya. Ya, kesuksesan dapat menghambat orang hebat untuk naik ke level berikutnya.

Tema ini menarik saya sampaikan dalam Apel jajaran Sekretariat dan Komisioner karena dalam periode post election disaat para penyelenggara pemilu telah sukses menggelar pemilu serentak 2019 rentan mengalami stuck dalam karir maupun pencapaian kinerjanya. Untuk itu, agar dapat memotivasi dan mendorong lebih giat lagi saya sedikit mengupas buku ini sebagai pemantik.

Saat seseorang berusaha meraih kesuksesan di bidang karirnya, mereka akan fokus pada hal-hal yang penting (prioritas) saja. Mereka memfokuskan waktu, energi dan atensinya fokus pada satu hal terpenting. Dan karenanya mereka menjadi sukses. Namun, kesuksesan ini memiliki implikasi. Implikasinya adalah terbukanya pilihan dan peluang baru. Sebagian besar dari kita akan tergoda dan berusaha untuk mengambil semua pilihan dan peluang yang datang. Apa dampaknya? Seseorang jadi mudah terdistraksi dari hal yang penting. Penggunaan waktu, energi dan atensi menjadi menyebar. Pada akhirnya akan gagal mencapai apa yang kita inginkan. Dengan kata lain, kesuksesan mengantarkan pada kegagalan.

Kunci kegagalan adalah berusaha mencapai dan mengerjakan banyak hal (tidak fokus dan tidak konsisten). Karena sebagian besar hal yang datang kepada kita bukanlah hal-hal yang penting. Jika kita ingin memiliki keberhasilan yang berkesinambungan, kita perlu mengabaikan sebagian besar hal yang datang kepada kita dan fokus pada satu hal terpenting yang sudah kita pilih. Inilah jalan seorang esensialis.

Jalan yang berbeda dengan para non esensialis.

Non esensialis adalah orang yang ingin meraih dan melakukan banyak hal (tidak fokus). Namun, dalam hidup seringkali kita hanya meraih sedikit hal. Para esensialis sebaliknya. Mereka hanya melakukan sedikit hal. Mereka memfokuskan energi dan atensinya pada hal yang sedikit ini sehingga hal yang sedikit ini menjadi besar. Mereka akhirnya berhasil meraih hal-hal besar dalam hidupnya.

Umumnya di dunia ini, typical orang esensialis ini tak banyak. Sebagian besar orang memilih menjadi non esensialis. Walaupun seringkali mereka akan menyalahkan keadaan atas keadaanya. Mereka akan berkata “saya terpaksa seperti ini” atau “saya harus melakukan hal seperti ini.”

Para non esensialis menganggap mereka tidak punya kendali atas pilihan hidup mereka. Sementara esensialis tidak. Mereka sadar bahwa mereka memiliki kendali atas pilihan mereka. Mereka memilih menjadi esensialis. Kaum esensialis fokus pada hal-hal penting yang sedikit dan mengabaikan sebagian besar hal-hal lainnya.

Para non esensialis berpikir bahwa mereka bisa melakukan semuanya. Namun kaum esensialis tidak. Setiap kali ada peluang atau project baru, esensialis akan berpikir: “apa yang perlu aku eliminasi agar aku bisa mengerjakan hal ini?” “apa yang perlu aku buang agar peluang ini memiliki ruang?” Seorang esensialis tidak berpikir bahwa mereka bisa mendapatkan semuanya. Mereka percaya dengan trade off. Selalu ada yang dipertukarkan bila kita memasukkan hal baru dalam hidup kita.

Menjadi seorang esensialis memerlukan disiplin. Greg McKeown merekomendasikan tiga disiplin:

  1. Eksplorasi, disiplin membedakan hal-hal sepele yang banyak dari hal-hal esensial yang sedikit
  2. Eliminasi, disiplin menyingkirkan hal-hal yang tidak penting yang mendistraksi kita dari hal-hal yang penting.
  3. Eksekusi, disiplin menghilangkan friksi agar eksekusi berjalan mulus tanpa hambatan.

Itulah sedikit yang saya sampaikan di Apel Sekretariat KPU Kota Jakarta Selatan sebagai bahan pemantik untuk pembinaan SDM. Agar para penyelenggara pemilu tetap fokus pada hal-hal yang esensial di bidang kepemiluan. Bukan hal mudah untuk melakukannya. Butuh tiga disiplin.

 

Sumber materi : https://medium.com/bedah-buku-bisnis/membedah-buku-essentialism-karya-greg-mckeown-d1e1bf21675d

About Dody Wijaya

Peminat Kajian Kepemiluan dan Pegiat Pemilu, Tinggal di Jakarta Selatan

Check Also

Buku Penanganan Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU)

Buku Penanganan Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Tahun 2019 dalam Angka yang diterbitkan oleh …

Tinggalkan Balasan