Bermodal Sejuta, Milenial Bisa Miliki Rumah Pertama Sebelum Berkeluarga

Rasa syukur tak henti terucap dari bibirku. Mimpi memiliki rumah di usia muda ternyata bukanlah semu. Terlebih bagi seorang anak rantau dari dusun kecil sepertiku. Tak dinyana program sejuta rumah dari kementerian PUPR memang jitu. Bikin milenial jadi terpacu, agar tidak “madesu”.

Semua Berawal dari Modal Sejuta

Burung saja bikin sarang sebelum bertelur” begitu petuah Mbah Kakung sebelum saya meninggalkan tanah Jawa. Pesan itu begitu terngiang di telinga. Bagaimana mungkin bisa memiliki “sarang” sebelum berkeluarga, padahal asal saya jauh dari kata berada. Pesan itu begitu membekas di kepala dan menjadi cambuk di dada.

Tahun 2010 saya memulai karir di Jakarta dengan gaji UMR sebesar Rp 1.118.000. Dengan biaya hidup Jakarta yang tinggi, rasanya mustahil memiliki rumah sendiri. Apalagi setelah dua tahun merantau, saya tak memiliki tabungan sepeser pun. Itu karena saya adalah tipe orang yang tidak bisa “melihat” uang di dompet atau ATM. Jika ada, pasti akan habis.

Tahun ketiga berkarir, tepatnya pada 2013, UMR Jakarta naik menjadi Rp 2,2 juta. Saya mulai membulatkan tekad, pengeluaran harus direm kuat-kuat. Karena tak bisa “melihat” uang di dompet maupun ATM, saya memilih jenis tabungan yang tidak mudah dicairkan. Pilihan saya jatuh pada kredit kavling tanah di pinggiran Jakarta. Harga tanah kavling di Citayam – Kabupaten Bogor saat itu Rp. 500.000 per m2, dengan luas 70 m2 harganya Rp 35 juta. Saat itu uang mukanya Rp 1 juta. Sisanya dicicil per bulan Rp 1 juta selama 3 tahun. Cukup realistis bukan?

Tentu saja menyisihkan Rp 1 juta (hampir 50 persen dari gaji saat itu) tidaklah mudah. Ibarat dalam permainan sepak bola, saya pilih strategi Catenaccio, yaitu bertahan total. Saya memasak sendiri, tidak banyak nongkrong dan jajan. Tidak juga membeli baju baru, kecuali keperluan pekerjaan, tidak menonton konser, apalagi traveling. Oh ya, kurangi ngopi di warkop dan tak merokok juga sangat berpengaruh. Alhasil, saya bisa menghemat Rp 30.000 per hari, 900.000 per bulan, tinggal tambah 100.000 jadilah 1 juta.

Awal tahun 2015, naas terjadi, saya terpaksa oper kredit tanah kavling untuk membantu adik bungsu yang akan kuliah. Saya berkomitmen untuk menomorsatukan urusan pendidikan keluarga. Dapatlah dana segar Rp 22 juta termasuk sedikit keuntungan kenaikan harga tanah. Tetapi takdir tak berpihak padanya, adik tak diterima di PTN. Jadilah dana puluhan juta itu masih utuh.

Gerbang perumahan pesona citayam, menarik perhatian (2014)

Suatu hari, tak sengaja saya berkeliling sekitar Citayam sekadar melihat perumahan-perumahan yang sedang dibangun. Iseng saya mampir ke kantor pemasarannya dan mendapatkan penawaran rumah tipe 36/72m2 dengan harga Rp 154 jutaan. Saya langsung membayar tanda jadi dan lagi-lagi dimulai dari Rp 1 juta. Ternyata perumahan yang saya beli ini salah satu dari Program Sejuta Rumah Pemerintah.

Uang mukanya (DP) setara Rp 30 juta. Pengembang memberikan kemudahan cicilan DP sampai 8 kali. Saya membayar cicilan DP pertama sebesar Rp 23 juta (hasil dari oper kredit tanah kavling). Sementara sisa cicilan DP sebanyak Rp 7 juta dicicil sebanyak 7 kali.

Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3K) keluar dari Bank dan segera dilakukanlah akad kredit. Saya mesti membayar angsuran sebesar Rp1,43 juta per bulan selama lima belas tahun ke depan. Betapa leganya, setelah proses serah terima dengan pengembang dan membayar cicilan KPR pertama, saya membuka kunci pintu rumah.

 

Saya langsung ambil wudhu dan sholat serta sujud syukur. Rasanya masih tidak menyangka, saya yang lajang dan perantau ini akhirnya bisa memiliki rumah.

Tahun 2016 saya menikah dan mulai membangun keluarga kecil tanpa perlu kebingungan harus tinggal di mana. Tak juga terbebani biaya kontrak rumah. Tapi kami harus membayar cicilan rumah yang naik menjadi Rp 1.598.700. Cicilan itu tak lagi terasa berat dengan penghasilan kami berdua, masih bisa menabung untuk berbagai keperluan.

Kami menerapkan strategi pembayaran ekstra untuk mempercepat pelunasan KPR. Tiga kali pembayaran ekstra dilakukan, yakni akhir tahun 2016 Rp 50 juta yang berasal dari bonus kantor istri, pertengahan tahun 2017 dari tabungan Rp 25 juta, dan di akhir 2017 Rp 31 juta dari bonus kantor istri untuk melunasi sisa KPR. Jangka waktu KPR yang awalnya 15 tahun (sampai 2029), akhirnya bisa dilunasi secara mandiri dalam 3 tahun. Terharu sekaligus sangat bersyukur.

Banyak Jalan Menuju Roma – Banyak Cara Miliki Rumah Pertama

Cerita diatas hanya sepenggal kisah bagaimana milenial lajang, berpenghasilan UMR, bekerja di kota metropolitan, pada akhirnya bisa memiliki rumah pertama.

Hal ini sejalan dengan upaya Kementerian PUPR yang terus berupaya mewujudkan visi “Setiap orang, keluarga, rumah tangga Indonesia menempati rumah layak huni“. Ada banyak jalan menuju Roma, begitupun ada banyak cara memiliki rumah pertama. Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan memiliki banyak program yang dapat dimanfaatkan millenial untuk memiliki rumah impian pertamanya.

Salah satunya melalui “Program Sejuta Rumah”. Ikhtiar Kementerian PUPR untuk mewujudkan amanat UUD pasal 28h ayat 1 dengan menggerakkan semua pemangku kepentingan di bidang perumahan baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, pengembang, hingga dunia usaha maupun masyarakat umum. Tahun 2019 yang lalu telah teralisasi 1.257.852 unit dan 4.809.423 unit dari tahun 2015 – 2019.

Capaian Program Sejuta Rumah Tahun 2015-2019

Program Sejuta Rumah ini beragam wujudnya, di antaranya: (a) pembangunan rusun, rumah khusus, dan rumah swadaya yang dibangun oleh pemerintah, (b) pembangunan rumah umum yang dibangun oleh pengembang dan memperoleh bantuan pembiayaan pemerintah seperti FLPP dan SSB, dan (c) pembangunan rumah oleh pengembang tanpa subsidi pemerintah dan pembangunan rumah dari dunia usaha berupa CSR.

Salah satunya, milenial bisa membeli rusun yang disediakan oleh PUPR. Hunian vertikal ini teralisasi 5623 unit di tahun 2019, dan 48.792 unit sepanjang 2015-2019. Peruntukan terbesar rusun ini adalah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), santri dan mahasiswa.

Salah satu rusun di Pasar Rumput, DKI Jakarta, terdiri dari 3 Tower 25 Lantai Type 36 sebanyak 1984 Unit.

Ada juga Program Rumah Khusus untuk milenial seperti nelayan, korban bencana atau pengungsi, guru, tenaga medis, TNI/ Polri, maupun petugas di daerah perbatasan dan terpencil. Program ini telah terealisasi 1.954 unit di tahun 2019. Peruntukan paling besar adalah nelayan, pemukiman daerah tertinggal atau terasing, dan program pemerintah khususnya di daerah Papua.

Rumah Khusus (Rusus) Desa Kedungsari, Kota Magelang, Jawa Tengah Tipe 28 – 25 Unit.

***

Salah satu hambatan milenial memiliki rumah adalah soal pembiayaan. Menurut riset “Property Affordability Sentiment Indeks” milenial antusias mempunyai rumah, namun tak punya perencanaan matang. Pemangku kepentingan perumahan harus bersama-sama mengedukasi generasi milenial terkait rumah sebagai kebutuhan primer dan pentingnya memiliki rumah sedini mungkin.

Selain menggunakan skema menabung untuk uang muka KPR dan cicilan seperti gaya Catenaccio yang saya praktikkan. Milenial juga bisa mengikuti Program Kementerian PUPR terkait skema bantuan untuk pembiayaan kepemilikan rumah.

Ada beragam program, antara lain KPR bersubsidi, KPR SSB (Subsidi Selisih Bunga), KPR SSM (Subsidi Selisih Marjin), SBUM (Subsidi Bantuan Uang Muka), FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan), dan juga BP2BT (Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan).

Fasilitas Pembiayaan Perumahan Pekerja dari BPJS Ketenagakerjaan juga bisa ditimbang milenial sebagai alternatif pembiayaan perumahan. Tapi harus terdaftar dalam keanggotaan BPJS Ketenagakerjaan. Milenial yang tertarik bisa datang ke kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan terdekat kota masing-masing.

https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/perumahan.html

Kalian bisa mendapatkan fasilitas KPR untuk rumah subsidi (MBR), ataupun non subsidi dengan bunga lebih rendah dan DP yang lebih ringan. Bisa juga mengajukan PUMP (Pinjaman Uang Muka Perumahan). Mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 50 juta tergantung dengan besaran gaji pekerja.

Untuk prosedur pengajuan, kalian bisa minta surat rekomendasi dari tempat kamu bekerja. Kemudian bawa surat tersebut ke bank yang telah bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan dan pihak bank akan memberikan Surat Pemberitahuan Persetujuan Pemberian Kredit (SP3K) sebagi bukti. Setelah itu kalian bisa datang ke kantor BPJS Ketenagakerjaan terdekat untuk mengajukan PUMP. Jangan lupa lampirkan persyaratan seperti fotokopi KTP, fotokopi KK, dan fotokopi kartu peserta BPJS TK. Mudah kan?

Persyaratan untuk pengajuan KPR, PUMP dan PRP juga tidak susah. Milenial cukup perlu terdaftar 1 tahun di BPJS Ketenagakerjaan, tertib administrasi dan kepesertaan, aktif membayar iuran, mendapatkan rekomendasi BPJS Ketenagakerjaan. Oh ya kalian juga belum memiliki rumah sendiri ya, kecuali untuk renovasi rumah. Tentu saja kamu harus memenuhi syarat dan ketentuan Bank penyalur dan OJK misalnya BI Checking.

***

Semua pihak harus memberikan dukungan agar program sejuta rumah dan skema bantuan pembiayaan bisa memudahkan milenial mendapatkan rumah pertama. Para pemangku kepentingan di bidang perumahan khususnya Kementerian PUPR tak boleh lelah mendidik generasi milenial perihal kebutuhan rumah sebagai yang utama, lebih prioritas dari plesiran apalagi kopi kekinian. Juga pentingnya punya rumah sedini mungkin. Banyak yang telah berhasil mengikuti Program Sejuta Rumah, masih perlu berjuta-juta milenial lagi yang berhasil memiliki rumah pertamanya, secepatnya.

Agar di tiap tanggal 25 Agustus saat memperingati Hari Perumahan Nasional (Hapernas) tiap tahunnya bertambah 1 juta milenial yang memiliki rumah impian pertamanya. Semoga.

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR dalam rangka memperingati Hari Perumahan Nasional 2020.

About Dody Wijaya

Peminat Kajian Kepemiluan dan Pegiat Pemilu, Tinggal di Jakarta Selatan

Check Also

Buku Penanganan Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU)

Buku Penanganan Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Tahun 2019 dalam Angka yang diterbitkan oleh …

2 comments

  1. Bagus, sangat menginspirasi saya artikelnya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.