Orientasi Anggota KPU Kota/Kabupaten Seri-1 : Electoral & Crisis Leadership

Anggota KPU Kota Kabupaten Periode 2018-2023 dari DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat mengikuti Orientasi Anggota KPU Kota/Kabupaten pada 23-27 Oktober di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Kami berkesempatan menimba ilmu dari para senior, pakar kepemiluan dan tentu saja para pimpinan di KPU RI. Karena banyak pelajaran menarik dan berharga, saya mendokumentasikan nya dalam bentuk tulisan agar bisa menjadi inspirasi bagi penyelenggara pemilu, secara pribadi untuk mengikat ilmu agar ilmu yang diberikan lebih terpahami dan bisa kami terapkan, Rasulullah SAW bersabda:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
“Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya”

Ketua KPU RI Pak Arief Budiman menyampaikan, orientasi anggota baru merupakan tradisi untuk memberikan pengalaman penyelenggaraan pemilu dari generasi ke generasi. Selain itu untuk membangun soliditas dan team work bagi anggota KPU yang baru, membangun pola kerja yang adaptif bagi anggota KPU serta melatih kedisiplinan

Manager vs Leader

Di dalam memimpin lembaga KPU dibutuhkan kemampuan manager dan leader. Beberapa kata kunci terkait Manager dan Leader adalah sbb :

Manager : Authority – Memerintah – Administrator, Count Value – Maintenance – Focus on System & Structure – Relies on Control [Electoral Leadership]

Leader : Influence – Mempengaruhi – Inovator – Create Value – Developer – Focus on People – Inspiring Trust – Out of The Box – Charismatic [Crisis Leadership]

Seorang manager cenderung menggunakan authority dalam menjalankan roda organisasinya. Dengan kewenangan itulah seorang manager memberikan perintah. Perintah tersebut dijalankan dengan prinsip-prinsip administrator (melaksanakan teknis kebijakan). Manager cenderung bekerja sesuai pakem berdasarkan SOP yang ada, dan memelihara sistem agar berjalan dengan stabil. Manager condong kepada sistem dan struktur kerja serta melakukan fungsi-fungsi control / supervisi untuk mencapai tujuan. Kemampuan manager pada anggota KPU dibutuhkan untuk “Electoral Leadership” yaitu untuk melaksanakan tahapan pemilu reguler yang telah disusun program dan kegiatannya secara administratif.

Leader adalah orang yang memiliki kemampuan mempengaruhi / influence bagi yang selainnya ataupun yang dipimpinnya. Seorang leader adalah inovator, ia selalu tidak puas dan haus akan ide-ide untuk menyelesaikan masalah atau mencapai tujuan. Leader menciptakan dan membangun nilai-nilai dalam tim nya, ia adalah seorang pembangun baik sistem, tata kerja, program. Seorang leader berfokus pada pengembangan, potensi dan kemampuan SDM nya, ia bisa melakukan pendekatan pada SDM secara personal sehingga SDM tersebut bisa mengoptimalkan kemampuannya untuk membantu mencapai tujuan. Seorang leader juga dibutuhkan kemampuannya dalam membangun kepercayaan, karisma dalam membangun hubungan dengan bawahan atau stakeholder, juga kemampuan berfikir out of the box. Kemampuan leader ini dibutuhkan anggota KPU dalam “Crisis Leadership“. Memimpin lembaga yang memiliki potensi konflik, tuntutan atau tekanan dari banyak pihak, dibutuhkan skill Crisis Leadership yang baik.

Anggota KPU, Manager atau Leader ?

Untuk memudahkan memahami fungsi manager dan leader, bisa dipahami melalui analogi “Pilot”. Seorang pilot suatu saat bisa menjadi manager, saat yang lain bisa menjadi leader. Sebelum pesawat berangkat, dalam tahapan awal Pilot menjadi seorang manager. Cenderung bersikap administrator, melakukan pengecekan setiap tahapan sebelum penerbangan, mana yang sudah dikerjakan dan mana yang belum dengan memberi check list. Setelah pesawat “flight” seorang pilot menjadi leader. Dia lah yang akan menentukan pesawat mendarat di tujuan mana, bagaimana menghadapi dinamika kondisi di lapangan yang dinamis. Seorang Ketua KPU ibaratnya adalah seorang Pilot yang diberikan mandat oleh anggota yang lain dan sekretariat serta organ KPU yang lain untuk mengantarkan mencapai tujuan. Sampai atau tidaknya tujuan pesawat tersebut sangat bergantung leadership dari pilot tersebut. Termasuk di saat menghadapi situasi-situasi krisis, kondisi yang dinamis, tekanan-tekanan, kemampuan leadership sangat menentukan.

Seorang anggota KPU dituntut kemampuan sebagai seorang leader, mempengaruhi baik organ KPU maupun para stakeholder, dengan kemampuan influence yang dimiliki berupa kebijakan, keputusan, maka stakeholder akan mengikuti tunduk dan patuh atas kebijakan KPU. Anggota KPU dituntut kemampuan inovasi untuk memikirkan hal-hal yang bisa mencapai tujuan kepemiluan, senantiasa mengevaluasi apa yang kurang. Anggota KPU diharapkan mampu menjadi seorang Developer, Creator, berfikir out of the box agar bisa mencapai tujuan organisasi KPU. Dengan kemampuan leader inilah, diharapkan anggota KPU dapat menjalankan “Crisis Leadership” dalam menghadapi dinamika kepemiluan, tekanan, maupun berbagai kesulitan dan hambatan di lapangan yang tinggi.

Selain kemampuan seorang leader, anggota KPU juga dibutuhkan kemampuan manager. Di saat tahapan pemilu berjalan sesuai tahapan reguler, kemampuan administratif, memberikan perintah dan arahan, mensupervisi, membangun sistem, SOP dan maintenance agar berjalan sesuai rencana dan target yang telah di tetapkan. Saat itulah kemampuan “Electoral Leadership” dibutuhkan.

Ketua KPU RI juga menyampaikan, menjadi anggota KPU harus open mind, terbuka terhadap kritik, memiliki kemampuan membangun jaringan dengan stakeholder kepemiluan baik Bawaslu, Pemantau, NGO, pemerintah, dls.

Menjadi anggota KPU harus bisa bekerjasama dengan sekretariat. Dengan memahami tupoksi masing-masing antara Komisoner dan sekretariat akan bisa berjalan dengan baik. Jangan sampai Komisioner merasa menjadi Sekretaris, pun begitu pula Sekretaris jangan merasa menjadi Komisioner.

Kunci nya dalam pengelolaan Tim KPU dan sekretariat adalah soal Transparansi dan Soliditas. Mengelola Pemilu seperti bermain orkestra. Anda boleh sambil duduk, berdiri, lesehan yang penting irama bisa berjalan dengan baik seirama. Kalau ada satu orang saja yang fales nadanya, pasti akan rusak irama orkestra tersebut.

Menjadi penyelenggara Pemilu, jangan sampai melupakan sejarah orang-orang yang telah memiliki pengalaman di KPU atau kepemiluan. Para senior, para penyelenggara sebelumnya tentu memiliki pengalaman dan kapabilitas yang bisa kita ambil pelajaran berharga, mendengar masukan dari para penyelenggara sebelumnya bisa menjadi bekal untuk menghadapi tantangan-tantangan ke depan.

Perlu juga diantara anggota KPU, antara anggota dan sekretariat membangun “rasa”. Baik itu rasa kebersamaan, rasa persaudaraan, rasa kekeluargaan. Bisa dimulai dengan hal-hal sederhana baik makan bersama, berangkat tugas/ rapat bersama, dengan kebersamaan akan membangun rasa, sehingga dinamika tantangan dan perbedaan-perbedaan bisa diselesaikan dengan baik.

Terakhir, jangan lupakan keluarga. Betapapun sibuknya kita di penyelenggara pemilu, jangan lupakan keluarga yang selalu ada untuk kita disaat kita sakit, kita menghadapi masalah, keluarga selalu mensupport kita. Kepedulian dan kebersamaan dengan keluarga tetap harus di kelola dengan baik.

Terima kasih ilmu dan inspirasinya yang sangat berharga dari Ketua KPU RI, Pak Arief Budiman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s